Menghindar dari Berbohong

Nunggu-nunggu THR tak kunjung datang akhirnya dari pada bikin stres mendingan bahas yang satu ini.

 

B

iasanya kita bingung bagai mana menjawab pertanyaan dari seseorang yang seharusnya tak perlu di jawab tapi tanpa berkata bohong. Orang yang tidak biasa berbohong biasanya jika berbohong ia akan mudah diketahui. Sebisa mungkin kita menghindari kebohongan, karena sekali kita berbohng maka kita akan berkewajiban memelihara kebohongan tersebut agar tak terungkap ditutupi dengan kebohongan yang lain.


Ada beberapa cara yang saya ketahui, entah itu dari teman maupun dari hasil pemikiran sendiri:

  1. Siasat posisi badan. Ini yang dilakukan Rasulullah SAW. pada saat mengalihkan pertanyaan. Karena Rasululah SAW. terkenal oleh semua kalangan tak terkecuali musuh-musuhnya dengan gelar Al-Amin orang yang dapat dipercaya. Pada saat itu seseorang dikejar oleh orang kafir yang jahat lalu meminta perlindungan Rasulullah SAW. lalu pada saat orang jahat itu menanyakan Rasulullah SAW. dimana orang tersebut dengan harapan bahwa Rasul ga bakalan berbohong tapi Rasulullah SAW menjawab, ” Saya tak pernah melihatnya semenjak saya berdiri disini.” Orang itu tak sadar bahwa pada saat orang yang dikejarnya itu terlihat Rasul, Rasulullah SAW. pada posisi duduk dan setelah Rasulullah SAW. berdiri orang itu sudah tak terlihat lagi.

  2. Siasat lokasi. Ini biasanya yang dilakukan banyak orang termasuk saya sendiri, a) pada saat bos menelepon bertanya sedang dimana kamu? Karena takut dianggap lamban maka saya cepat keluar rumah dan menjawab “Sedang di jalan Pa,” padahal saya itu di jalanan depan rumah. b) pada saat seseorang ingin datang kerumah sedangkan kita sedang tidak berkenan menerimanya maka pada saat ia menelepon ke hp dan menanyakan “Boleh ya saya datang ke rumah?” sama seprti yang tadi kita bergegas keluar rumah dan menjawab “Maaf nih saya tidak sedang dirumah sekarang”.

  3. Siasat dengan tulisan. Ini idenya sangat konyol dari teman saya. Pada saat seseorang meminta kita untuk datang kesesuatu tempat dan kita tidak berkenan dan kita menghindarnya dengan tujuan seseorang itu akan berpersepsi bawa kita sedang berada itempat yang jauh. Maka pada saat ia menelepon “Tolong dong kemari?” kita buat tulisan di kertas atau pun lansung dilantai dengan tulisan nama tempat yang jauh contohnya Bogor lalu kita duduk atau berdiri diatasnya lalu dengan santainya kita menjawab “Waduh lagi di bogor nih”

  4. ……… setrusnya kalo ada tambahin pada komentar ya.

Sekedar diketahui siasat tersebut tidak lah bisa berhasil 100%, bila kita berhadapan dengan orang yang kritis terpaksa deh kebongkar juga. Untuk saya pribadi lebih baik terbongkar dari pada berbohong.

20 Komentar

  1. Dituliskan Oktober 10, 2007 pada 6:55 am | Tautan Permanen

    Alasan yang cerdas… :)

  2. Dituliskan Oktober 18, 2007 pada 2:09 pm | Tautan Permanen

    Trima kasih

  3. Dituliskan Oktober 22, 2007 pada 2:06 am | Tautan Permanen

    Hahaha.. Trik konyol, tapi masuk akal juga.. :P kapan2 kalo lagi kepepet, saya coba triknya deh.. Btw, salam kenal.

  4. Dituliskan Oktober 22, 2007 pada 4:28 am | Tautan Permanen

    Semoga bermanfaat
    Salam kenal juga
    Mohon maaf lahir batin, Taqobalallahu Mina Wa Minkum.

  5. Dituliskan Oktober 24, 2007 pada 12:56 am | Tautan Permanen

    ehehehe….emang boleh ya, bohong model beginian? ya sudah lah, maaf lahir batin aja, wan. lama gak ke sini, apa kabar? :)

  6. Dituliskan Oktober 24, 2007 pada 6:16 am | Tautan Permanen

    Ya kalo menurut saya sih itu bukan bohong tapi, cuma menyembunyikan fakta yg sebenarnya dengan cerdas.
    Semoga dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar.
    Dan jangan di salah gunakan.

    Sama2 mohon maaf lahir batin jg, ga apa saya jg ud lama ga ngeblog, kabarnya sih biasa2 aja.

    Makasih ud mampir

  7. Dituliskan Oktober 28, 2007 pada 9:44 pm | Tautan Permanen

    salam kenal!

  8. Dituliskan Oktober 29, 2007 pada 7:53 am | Tautan Permanen

    Salam kenal jg Ben

  9. Dituliskan Oktober 29, 2007 pada 9:30 am | Tautan Permanen

    hehehehee.. ternyata bisa juga di utak atik kaya begini yah
    (udah ada label hala dari MUI nya ga???)
    sekali2 bole juga dicoba

    kayanya aq dah pernah jalan2 kesini yah
    lam kenal lagi deh mas

  10. Dituliskan Oktober 29, 2007 pada 11:33 am | Tautan Permanen

    Kalau yg pertama sih Insya Allah Halal, saya pernah denger dari Ustad hadistnya ya kurang lebihnya begitu.
    Untuk yg lainya ya ijtihat aja.

    Ud kenal kayanya di RSJ hehehe…
    sama2 jd pasien

  11. Dituliskan Oktober 30, 2007 pada 6:28 am | Tautan Permanen

    o___0a

    cara yang cerdas…dan konyol….

    met kenal…

    *banyak yang kenalan di post ini*

  12. Dituliskan Oktober 30, 2007 pada 6:58 am | Tautan Permanen

    Sekai lg mohon dipergunakan dengan baik dan benar
    Jangan disalah gunakan
    Salam kenal jg

  13. Dituliskan November 2, 2007 pada 8:02 am | Tautan Permanen

    Ya kalo menurut saya sih itu bukan bohong tapi, cuma menyembunyikan fakta yg sebenarnya dengan cerdas.
    Semoga dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar.
    Dan jangan di salah gunakan.

    Sebenarnya itu tetap saja berbohong kalau menurutku, Wan. Kalau eufimismenya disebut dengan ‘dalih’ mungkin ya.
    Tapi benar sih, sepanjang kita memanfaatkannya dengan baik dan benar, dan masih debatable *halaah* kenapa tidak?
    Karena ‘dalih’nya itu juga based on fact pada saat kita bicara bukan? ;)

    Trik bagus :P

  14. Dituliskan November 2, 2007 pada 10:10 am | Tautan Permanen

    Gimana ya…. lah wong kita cuma meniru seperti yg di lakukan Rasulullah SAW.
    Cuma Pada saat itu Rasul mengunakannya kepada orang yg berbuat jahat, ya mungkin ga sesuai dengan contoh kedua digunakan kepada bos (bos jahat ga ya..?).

    Intinya kita prioritaskan kejujuran, hal tersebut diatas cuma digunakan untuk mencegah kita dari berbohong.

  15. Dituliskan November 3, 2007 pada 1:43 pm | Tautan Permanen

    Cuma Pada saat itu Rasul mengunakannya kepada orang yg berbuat jahat

    Nah, di sini nih yang sepakatnya, Wan.
    Jadi ingat dulu waktu SD, masih diputer pilem G30S itu, ada yang tanya: Bu Nasution kan berbohong waktu ditanya Pak Nas kemana. Itu kan dosa, Bu!
    :lol:

    Guru Agama di SD dulu menjawabnya: demi mencegah terjadinya keburukan,bohong itu dibenarkan.

    Acuannya, kalo dalam agama kita, mungkin ditimbang mana besar mudharat atau manfaatnya ya, Wan? ;)

  16. Dituliskan November 6, 2007 pada 4:25 am | Tautan Permanen

    Setuju.
    Trima kasih atas semua sarannya.
    Mengenai filem G30S itu saya ga pernah nonton lengkap tuh, maap kalo jadi kurang nesionalis

  17. Dituliskan November 7, 2007 pada 10:46 am | Tautan Permanen

    Mengenai filem G30S itu saya ga pernah nonton lengkap tuh, maap kalo jadi kurang nesionalis

    Hahaha… siapa bilang nonton G30-S mencirikan nasionalisme?

    Saya malah belakangan meragukan beberapa hal di film itu… :mrgreen:

  18. Dituliskan November 8, 2007 pada 4:30 am | Tautan Permanen

    Oo.. gitu ya
    Iya tuh, sekarang baru kerasa sejarah kita yang kita pelajari dari sd ga murni dan jujur.
    Ya mungkin itu salah satu alasannya saya ga suka pelajaran tersebut, disamping memang males ngapalnya.

  19. Dituliskan November 15, 2007 pada 9:35 pm | Tautan Permanen

    Snetron2 kita banyak sekali ngajarin kebohongan ke anak2. Misalnya pas adegan para tokoh terdesak, si tokoh cari 1000 alasan buat ngeles. Apa bohong kayak gitu udah biasa ya? Tau ah.

  20. Dituliskan November 15, 2007 pada 11:04 pm | Tautan Permanen

    Loh yg saya utarakan diatas itu bukan berbohong lo. Lebih tepatnya adalah menyembunyikan fkta dengan fakta yang lain dengan cerdas, ya bolehlah dengan kata lain “ngeles”. Tapi tetap itu belum termasuk bohong lo.
    Kalo di sinetron2 ya tergantung seknarionya gitu.


Tulis sebuah Komentar

Alamat email kamu tidak akan pernah dipublikasi ataupun disebarluaskan. Ruas dengan tanda * harus diisi.
*
*