FANATIK

Pada waktu itu menjelang pemilu partai dan pemilu Pres dan Wapres dan juga kejadian bom bali yang lagi seru-serunya pada saat itu, fenomena yg terjadi pada saat itu aneh menurut saya sehingga saya buat suatu ketikan seperti dibawah ini.

Hampir setiap orang meyakini bahwa semua agama mengajak kepada kebaikan atau berbuat baik. Tapi mengapa sesuatu yang mengajak kita kepada kebaikan atau berbuat baik tidak boleh fanatik terhadapnya? Bukankah jika semua orang fanatik kepada yang mengajak kebaikan kehidupan kita akan menjadi tentram dan damai. Sepertinya fanatik terhadap seseorang lebih ditolerir di banding fanatik terhadap agama.

S

epertinya wajar jika seseorang beragama menganggap bahwa Agamanyalah yang paling benar, oleh karenanya ia memilih Agama tersebut. Tidakkah malah aneh jika seseorang menganggap semua agama adalah sama, lalu apakah ia akan memeluk semua agama itu ataukah malah menjadi Ateis, karena agama merupakan keyakinan yang paling kita yakini kebenarannya. Oleh karena itu wajar jika seseorang menganggap Agamanyalah yang paling benar sejauh ia tidak memaksakan agamanya kepada orang lain, karena memeluk agama bukan suatu keterpaksaan tapi kesadaran.

Fanatik sendiri berati kepercayaan atau keyakinan yang sangat kuat terhadap sesuatu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Seharusnya fanatik ini hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita tahu kebenarannya. Dapatkah kita bayangkan jika pejabat-pejabat pemerintah termasuk pemerintah fanatik pada agamanya (Islam), yang terjadi adalah mereka akan takut berbuat salah seperti korupsi dan lain-lain yang merugikan negara karena mereka sangat yakin akan balasan dari Tuhan. Jika seseorang fanatik terhadap sesuatu maka ia cenderung mengikuti dan menaati apa yang difanatikannya itu. Seorang yang fanatik terhadap agamanya (Islam), ia tak akan mau menerima uang sogok atau uang yang tidak jelas dan ia tiadak mau nenuruti pimpinan yang korup.

Sebenarnya Negara kita sangat membutuhkan orang yang sangat fanatic dengan benar kepada agamanya (terutama Islam) untuk menyembuhkan Negara ini dari penyakit korupsi.

Kebanyakan orang salah mengartikan fanatik dengan saklek/kaku dan pemahaman yang sepotong-sepotong seperti si bodoh Amrozi yang diperalat oleh Amerika.

Kebanyakan orang tidak mau fanatik dengan benar terhadap agama, karena ia tidak mau hidupnya dibatasi terhadap perbuatan-perbuatan yang meyimpang ia maunya setengah-setengah, hari ini berbuat salah besoknya bertaubat, hari ini korupsi besoknya beramal dengan dalih, “tidak ada manusia yang sempurna atau manusia adalah tempat salah dan dosa.”

Iklan

10 thoughts on “FANATIK

  1. demon Desember 22, 2006 pukul 4:54 am Reply

    Yang anda tulis itu sangat jauh berbeda dgn kenyataan yang ada diindonesia,nyata nyata 99% beragama islam tapi mereka 100%korupsi

  2. irwansidea Desember 26, 2006 pukul 3:28 am Reply

    Trima kasih, ternyata ada jg yg ngomen.

    Sebelumnya anda ini muslim atau bukan kalo 100%korupsi berati anda termasuk yg korup (itu kalau anda muslim).

    Itulah disini saya ingin menjelaskan bahwa Fanatik terhadap agama seharusnya tidak menghasilkan kerusakan melainkan malah menghasilkan perbaikan dan kebaikan bagi manusia.

  3. wadehel Desember 29, 2006 pukul 6:59 am Reply

    Seorang yang atheis, atau sekedar tidak beragama, bila dia bisa mentaati hukum yang belaku di negeri ini, maka dia juga tidak akan korupsi.

    Yang negara ini butuhkan adalah orang-orang sadar, yang bisa menghormati kepentingan umum, kepentingan orang lain. Bukan orang-orang yang suka memaksakan kehendak demi kesenangannya sendiri.

    Mengenai fanatik beragama, bagaimana dengan taliban? Bagaimana dengan wahabi? Masalah oknum?

    Harus fanatik pada agama menurut pemahamannya siapa? Tafsir Ulama yang anda puja? Yang dia puja? Yang saya puja? Atau boleh menafsirkan sendiri?

  4. irwansidea Desember 29, 2006 pukul 9:43 am Reply

    Hukum negara itu buatan manusia pastilah banyak terdapat celah maupun kelemahan, sedikit sekali orang ateis yang seperti itu, ateis malah menjadikan ia berpeluang besar untuk dapat bertindak semaunya yang penting idak ketahuan.

    Bagaimana bisa sadar dan ikuti peraturan kalau tanpa agama.

    Apa menurut anda dinegara itu fanatik yang baik? saya ga bisa mengatakan nanti kalo saya katakan nanti disangka saya main hakim sendiri.

    Lalu apa dong yang pantas di faanatikin? Artis, Ulama, atau penguasa.

  5. renjanabiru Januari 9, 2007 pukul 11:57 am Reply

    Saya memeluk agama yang saya anut adalah bukan dari kesadaran saya sendiri, karena sejak lahir saya sudah menganut agama yang orangtua saya anut.

    Entah gimana caranya, entah gimana jalannya, tau-tau saya sudah beragama. Saya tidak diberi pilihan oleh orang tua saya, saya tidak pernah memilih agama yang saya anggap benar atau yang ingin saya anut. Saya hanya menjalani apa yang sudah ada… entah itu benar atau tidak.

    Mengenai ke-Fanatikan, menurut saya tidak ada di belahan dunia manapun, di planet apapun, kalo yang namanya Fanatik itu akan menghasilkan/membuahkan Kebaikan.

    Kesadaran-lah yang akan menghasilkan suatu kebaikan, kedamaian, kebersamaan, *dan hal-hal positif lainnya*

    Bahkan kesadaran seorang atheis pun!!

  6. Irwan Januari 11, 2007 pukul 3:43 am Reply

    @renjanabiru
    Sama halnya dengan anda saya pun begitu saya memiliki agama yang merupakan agama warisan dari orang tua. Secara hakekatnya boleh dong kita pelajari lebih dalam agama orang tua kita itu sesuai dengan hati nurani dan akal sehat kita apa tidak.
    Manusia mempunyai kebebasan untuk memutuskan sesuatu dengan hati nurani dan akal sehat. Apabila pada proses tersebut bertemu pada suatu titik kebenaran itu yang disebut hidayah.
    Saya yakin pada zaman dahulu zaman para sahabat Nabi terjadi hal2 yang baik karena fanatik tersebut. Contoh pada zaman Ali bin Abithalib ra ia memberikan baju besinya kepada seoorang yahudi karena tak cukup bukti kalau baju besinya tersebut adalah miliknya disini bisa dilihat kedudukan dalam pemerintahan tidak menjamin ia dapat dibela dengan mudah tanpa adanya bukti yg kuat. Pada zaman Umar ia memberi peringatan keras kepada petinggi muslim yang mengucilkan orang miskin walaupun ia berlainan keyakinan.

    Saya yakin kita semua sadar akan perbuatan kita tetapi kenapa tidak dilakukan kearah yg benar.

  7. fertobhades Februari 7, 2007 pukul 2:18 pm Reply

    Kalau definisi fanatik seperti itu, saya setuju mas… 🙂

    Tapi comment ini “Bagaimana bisa sadar dan ikuti peraturan kalau tanpa agama.” menurutku berlebihan. Tanpa agama-pun manusia bisa mengikuti kata hatinya untuk mengikuti peraturan.

  8. Irwan Februari 8, 2007 pukul 9:10 am Reply

    Trima kasih ud sudi mampir.

    Mereka yg beragama saja jarang sekali yg menggunakan hati nurani, lalu bagaimana yg ateis yg cenderung bebas apakah ia masih bisa mengedepankan hati nuraninya dari pada hawanfsu dan akalnya.

  9. erander Februari 12, 2007 pukul 2:44 am Reply

    Saya jadi ingat kata bijak dari Dalai Lama, “Kita bisa hidup tanpa agama dan meditasi tapi kita tidak bisa bertahan hidup tanpa kasih sayang sesama manusia” .. so, sebenarnya soal korupsi itu dapat terjadi pada siapa saja. Beragama atau tidak.

    Baru2 ini saya baca di salah satu media, bahwa telah terjadi korupsi dalam pengadaan peralatan perang di Amerika. So, saya pikir .. tidak adil agama dibawa-bawa. Karena agama tidak memerlukan kita. Justru kita lah yang memerlukan agama dan Tuhan.

  10. Irwan Februari 14, 2007 pukul 6:14 am Reply

    Trima kasih atas masukan dan informsinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: