Ngapain Lagi Pake Ngucapin “Selamet Natal”

Fenomena yang saya kira aneh dilingkungan umat beragama di Indonesia, budaya ikut-ikutan (sekedar trend) tanpa memikirkan bagai mana dapaknya lebih jauh. Disini saya ingin mengingatkan pendapat dari bayak orang belum tentu benar siapa tahu yang segelintir orang itu malah yang benar, tapi pada hakekatnya kebenaran itu hanya milik Allah SWT, jika kita benar itu merupakan perpanjangan dari perbuatan-Nya.

M

emang dipandang dari sisi sekulerisme dan liberalis mengucapkan selamat hari raya merupakan hal yang tidak berpengaruh besar terhadap keperibadian seseorang yang mengucapkan dengan tujuan menyenangkan orang lain yang memiliki hari raya tersebut, tapi jika di pandang dari sisi aqidah (Islam) itu merupakan salah satu tindakan yang mencampur baurkan keyakinan, secara tidak langsung kita mengakui keberadaan hari raya tersebut yang pada agama Islam tidak ada sama sekali.

Sebenarnya kalau kita lihat dari sejarahnya Natal itu bukanlah hari kelahiran dari Yesus atau Nabi Isa As, karena di kitab mereka juga disebutkan kondisi dimana Yesus itu lahir tidak pada saat musim salju tapi pada saat musim dimana seorang gembala mengembalakan dombanya dan dibawah pohon kurma bukan pohon cemara (maaf saya belum bisa mencantumkan nama ayatnya). Natal itu malah merupakan hari kelahiran Dewa matahari Yunani kuno. Kalau kita telaah lebih jauh memang ajaran Kristen itu banyak sekali terjadi sinkritisme atau pembauran budaya. Berbagai contoh pencampur bauran banyak sekali yang bisa kita lihat yang pertama seperti yang saya utarakan diatas yaitu Natal, selanjutnya foto atau gambar dari Yesus aja itu sebenarnya gambar dari Dewa Jeus bapaknya para dewa Yunani dan patung maupun gambar bunda Maria itu merupakan gambar dari Dewi Kuwanim dewi nya orang Budha. Sepertihalnya agama Kristen, Islam pun pada saat masuknya ke indonesia mengalami pembauran pula seperti acara Yasinan, tujuh bulanan, seratus harian dan hal-hal lain yang mengarah pada bid’ah yang merupakan pembauran pada agama Hindu dan Budha dipulau Jawa.

Inilah sebenarnya tugas para ulama untuk mengembalikan ajaran menjadi murni kembali. Pada komunitas Kristen Adven yang saya tahu mereka tudak mengakui adanya Natal.

Intinya kalaupun boleh mengucapkan ”Selamat Natal” itu kita tujukan pada pengikut agama Yunani kuno yang menyembah dewa matahari. Tidak mengucapkan selamat hari raya bukan berati adanya permusuhan, kerukunan antar umat beragama bisa dilaksakan dengan saling bantu-membantu dalam bidang muamalat misalnya, mnjenguk bila ada yang sakit, membantu memberikan semangat maupun materil kepada yang kesusahan dan lain sebagainya tanpa melihat perbedaan keyakinan

Iklan

26 thoughts on “Ngapain Lagi Pake Ngucapin “Selamet Natal”

  1. wadehel Desember 29, 2006 pukul 7:08 am Reply

    Anda melihat mereka menyembah berhala, dewa-dewa.
    Bisa jadi mereka melihat kita ramai-ramai menyembah batu hitam di mekah sana.
    Hanya dari baca-baca, dari katanya-katanya, melihat dari jauh, pantaskah menghakimi? Yakinkah anda kalau berhala-berhala itu bukan sekedar perlambang suci seperti halnya ka’bah?

    Masalah salam. Misal saya mengucap selamat natal pada orang-orang kristen. Atau selamat hariraya apalahyanglain kepada umat agama yang lain. Apakah anda merasa Islam anda tercemari?

    Adven? Anda tidak sealiran dengan mereka kan? Maksudnya… ingin memurnikan ajaran dalam arti ingin kembali kepada pemahaman masa lalu?

  2. irwansidea Desember 29, 2006 pukul 8:28 am Reply

    Maap bila kalimat saya terkesan menghakimi.

    Kalo bukan dari baca, mendengar, dan melihat lalu bagaimana kita bisa menerima informasi?

    Apakah saya harus masuk agama mereka baru saya bisa tahu?

    Islam itu Ya’lu wala Yu’la jadi ga ngaruh bila umatnya menyimpang, yg berpengaruh adalah iman dari orang tersebut.

    Masalah berhala2 tanya aja pada Nabi Ibrahim As kenapa ia memusnahkan berhala2 tapi ka’bah ko ga di musnahin padahal nantinya bakal jd penyembahan ber milyar orang sedunia.

    Adven saya ga perlu jawab apakah saya sealiran dengan ia atau bukan anda bisa tebak sendiri.

    Jelas islam itu udah sempurna jadi mo di apakan lagi (masalah ibadah),
    Masalah ilmu pengetahuan populer itulah yang terus berkembang sesuai jaman ternyata terungkap dalam Al qur’an.

  3. renjanabiru Januari 9, 2007 pukul 11:38 am Reply

    Agama saya juga udah sempurna loh mas Irwan 🙂

    btw, mau nanya ke Nabi Ibrahim gimana caranya yah?

  4. Irwan Januari 11, 2007 pukul 4:12 am Reply

    @renjanabiru
    Kalo Anda merasa seperti itu, itu ud bagus. Tetap terus pegang keyakinan Anda selama anda merasa itu benar.

    Alasan Nabi Ibrahim itu berdasarkan apa yg di suruh oleh Tuhannya, jd semuanya ya kembali kepada kehendak Sang Pencipta.

  5. Kang Kombor Januari 15, 2007 pukul 4:26 pm Reply

    Kang Kombor nggak pernah memberi selamat pada yang natalan. Kalaupun terpaksa, yang diucapkan adalah: silakan merayakan natal. Itu wujud toleransi sejati, membiarkan. Sayangnya, makna toleransi semakin dikaburkan dari esensi sebenarnya. Sayangnya lagi, kebanyakan orang Islam tidak menyadari.

  6. Irwan Januari 17, 2007 pukul 6:44 am Reply

    Saya kira dengan bersalaman dan senyum saja sepertinya itu sudah cukup menandakan persahabatan tanpa harus mengatakan.
    Toh bila kepepet apa yang anda lakukan itu menurut saya tidak ada salahnya pula.
    Intinya menjaga aqidah tidak harus dengan permusuhan. Allah menghalalkan kerjasama saling bantu-membantu dibidang kemasyarakatan.

  7. teteh Maret 8, 2007 pukul 7:04 am Reply

    sayah setujuuuu dengan postingan ini..dulu juga pernah sayah ikut2an ucapin selamat natal ama temen karna ga enak, tapi lama kelamaan sayah yakin itu ga boleh dan sampe sekarang deh udah ga ngucapin lagih… 🙂

  8. arabman Maret 9, 2007 pukul 2:28 am Reply

    makanya orang kristen itu musti dibunuh2in semuanya supaya gak ada lagi natal, dan kita juga gak perlu lagi toleransi ngucapin selamat natal.
    Hidup Islam! Hidup Arab!
    Allahu AkBAR!

  9. Irwan Maret 13, 2007 pukul 5:40 am Reply

    @ Teteh
    Sebenernya tujuannya hanyalah memberitahu bukan menghakimi mana yg benar atau salah. Maksudnya natal itukan bukan hari raya mereka jadi kalo anda ucapkan pada mereka itu salah sasaran, di samping itu diharapkan akidah dapat terjaga.

    @ arabman
    Saya yakin anda bukan orang Arab komen anda aneh.
    Saya berkesimpulan anda sepertinya teman si bodoh Amrozi atau malah anda orang nasrani yg mencoba jd profokator.

  10. indonesiaman Maret 30, 2007 pukul 5:03 am Reply

    betul tuh arabman itu orang nasrani yang mencoba menjadi profokator, musti di bunuh tuh orang-orang nasrani. Orang arab gak mungkin bodoh. Amrozi pastinya orang nasrani juga karena dia bodoh.

  11. Irwan Maret 30, 2007 pukul 8:12 am Reply

    Terserah kau lah, mo ngomong apa dan pake nama apa aja israelman, preman dll

  12. chiw(ga sempet logi) Juni 21, 2007 pukul 8:35 am Reply

    it’s okay kalo kita berbeda pendapat dalam hal ini…dan memang banyak banget pertentangan sih, mengenai ini…

    wajar aja lah…buat sesuatu yang emang senditip kaya gini. Ada teman saya, beliau nasrani, dan dengan polosnya bilang :

    orang Islam itu nggak adil banget ya? apa salahnya sih, mengucapkan selamat atas kebahagiaan orang lain?Kalopun natal itu bukan kelahiran Yesus, trus apa salahnya kalo kita milih satu hari yang special buat merayakan kebahagiaan kami?

    sampai saat inipun, saya merasa biasa saja saat ngucapin selamat kepada teman2 & keluarga saya yang berbeda agama…malah itu bisa mempererat hubungan kami.

    #wadehel

    Anda melihat mereka menyembah berhala, dewa-dewa.
    Bisa jadi mereka melihat kita ramai-ramai menyembah batu hitam di mekah sana.

    mungkin kamu emang udah mati secara blog mas wadehel…tapi…emang top abis dah!
    cerdas!
    *ngacungin dua jempol buat wadehel(alm)*

  13. Irwan Juni 22, 2007 pukul 7:11 am Reply

    Mohon maaf klau ada kata2 saya yg menyinggung perasaan, tapi kebenaran yg saya pahami begitulah adanya.
    Islam mengatur kehidupan manusia dari bangun tidur , mandi sampai tidur kembali termasuk hubungan atau kerjasama antar manusia.
    Aqidah merupakan hal yg tidak bisa ditawar2 jelas adanya, kalau anda rela masuk kedalam Islam.
    Mempertahankan aqidah tidak akan mengurangi keakraban kita terhadap pemeluk agama lain dengan dasar saling menghargai antar pemeluk agama yg berbeda itulah yg namanya toleransi antar pemeluk agama.
    Islam masuk ke Indonesia pun dengan cara damai, yaitu melalui perdagangan karena kejujurannya maka umat Islam berkembang cepat.
    Kita bisa bandingkan agama yg dibawa penjajah dengan program GOSPEL-nya tentu berbeda jauh.

  14. kayla Juli 9, 2007 pukul 11:48 am Reply

    Buat apa menghakimi agama-agama lain… Tidak ada manusia yang sempurna. Seorang Islam pun tidak ada yang sempurna seperti halnya orang-orang Nasrani.. Karena itu tidak ada seorang pun yang pantas untuk menghakimi..
    Orang-orang Nasrani tau bahwa mereka akan dimusuhi, sebab itu yang telah tertulis dalam Injil, dan firman Allah telah digenapi. Kami tetap mengasihi semua orang karena kami tahu pembalasan adalah hak Allah. So… buat apa repot membuat dosa diri sendiri. Shallom

  15. Irwan Juli 10, 2007 pukul 7:25 am Reply

    @ Kayla
    Setuju ga ada gunanya menghakimi agama2 lain.
    Setuju tidak ada manusia yg sempurna.
    Silahkan meyakini agama yg masing2 anut sebagai agama yg sempurna.
    Disini yg saya paparkan hanyalah kebenaran yg saya pahami bertujuan supaya agama lain dapat memahami bahwa ajaran islam tidak membenarkan mengucapkan selamat hari raya agama lain dan itu bukan ber arti Islam memusuhi mereka, jika kurang berkenan saya mohon maaf.

  16. Kopral Geddoe Juli 25, 2007 pukul 12:30 pm Reply

    Btw, kalau saya menganggap bahwa mengucapkannya itu malah mendekati wajib, anda nggak bakal melarang, ‘kan? 😕 😛

  17. Irwan Juli 31, 2007 pukul 5:46 pm Reply

    @Kopral Geddoe
    Tentu saja bukan saya yg melarang, tapi jika anda seorang muslim maka yg melarang Allah SWT dalam surat Al-Kafirun.
    Jika anda sudah tak percaya pada Al-Qur’an maka silahkan ambil jalan lain selain Islam.

  18. Foltaire Agustus 2, 2007 pukul 6:24 am Reply

    Makasih 😀

    Btw anda yakin yang anda sebut “Allah” itu bukan “Allah menurut pemahaman anda”? 😛 Yah, memang pada dasarnya semua manusia itu sok memahami dan sok kenal dengan Tuhan, sih 🙂

    Tapi ya kalau (menurut pandangan anda) saya terpaksa mengambil jalan selain Islam, anda ya tolong doain juga supaya tetap masuk surga (keculali kalau “Tuhan” anda tidak melarang untuk mendoakan sesama, tentunya :mrgreen: )

  19. Mihael "D.B." Ellinsworth Agustus 2, 2007 pukul 6:24 am Reply

    Hmm…

    Kalau dengan mengucapkan Selamat seperti itu dapat meredakan perkelahian antar beragama bagaimana ?

    Sebenarnya kita ini membela agama atau Tuhan kita sendiri ?

    *Ngeloyor Pergi*

  20. Foltaire Agustus 2, 2007 pukul 6:26 am Reply

    Well, terlepas daripada apakah benar atau tidak, agama adalah candu 😉

  21. mr.t Agustus 2, 2007 pukul 8:14 am Reply

    kita kembalikan saja semua pada-Nya..biarkan anjing mengongong…kafilah berlalu..

  22. Irwan Agustus 7, 2007 pukul 6:50 am Reply

    @ Foltaire
    Pertanyaan anda aneh.
    Tuhan bisa jadi ada banyak tapi Allah SWT tentunya cuma ada satu (Esa), yg merupakan kalimat tauhid Tiada Tuhan Selain Allah SWT.
    Sebagai muslim kita harus meyakini keberadaan Allah yg merupakan penerapan
    rukun iman
    yang pertama.
    Ya anda lebih suka candu yg merugikan atau agama yg mengajak keselamatan (Islam).

    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Saya belummendengar tuh seseorang bisa berkelahi karena tidak mau mengucapkan selamat hari raya.

    Agama maupun Tuhan tak perlu pembela, sekarang bagaimana manusianya, mau apa tidak diajak kearah kebaikan.

    @ mr.t
    Ya kembali ke tuntunan Al Quran dan Hadis
    Yg penting anda tau yg mana anjing dan yg mana kafilah.

  23. Foltaire Agustus 7, 2007 pukul 7:13 am Reply

    Well, agama yang mengajak pada keselamatan pun… Adalah candu… 😀

  24. Irwan Agustus 7, 2007 pukul 7:42 am Reply

    Yah, memang pada dasarnya semua manusia itu sok memahami dan sok mendevinisikan sesuatu.
    😀

  25. Foltaire Agustus 8, 2007 pukul 4:33 am Reply

    Amiin… 😛

    Btw ejaan EYD-nya definisi, lho 🙂

  26. Irwan Agustus 9, 2007 pukul 4:19 am Reply

    @ Foltaire
    Yoi, tadi malahan maunya pake p bukan pake f
    :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: