ANTARA BENCI DAN CINTA

Kompor
Minyak tanah bisa di beli dengan eceran per liter,
lah kalo gas susah tuh ngeliterinnya

 

P

agi ini pembicaraan ibu-ibu di kompleks masih bekisar pada hilangnya minyak tanah dari pasaran. Mereka merasa dipaksa oleh kekuatan yang tak terlihat (pemerintah pen) untuk mebeli gas yang lebih mahal dalam perhitungan keseharian mereka dibandingkan dengan gas. Padahal menurut para ahli ekonomi kalau memakai gas itu lebih murah lebih ekonomis kalau dihitung hitung oleh yang ahlinya.

“Para ahli itu mana pernah kesusasahan “, kata ibu Salim.

“Iya jeng mana pernah mereka itu beli minyak tanah eceran seliterr dua liter kaya kita?” timpal bu Mimi (tetangga saya).

Wah, rame deh pokoknya pembicaraan pagi itu. Ibu-ibu kita itu tak akan pernah tahu bagaimana itu ekonomi makro sehingga pemerintah memutuskan untuk menghentikan penggunaan minyak tanah yang katanya subsidinya “merugikan” negara dalam jangka panjang bila diteruskan. Yang mereka rasakan adalah keadaan ekonomi keluarga mereka sehari hari yang makin susah. Walaupun ada bantuan kompor dan tabung gas “murah” dari pemerintah, hal itu tidak banyak membantu. Judulnya memang kompor dan
tabung gas gratis tapi pada kenyataannya tetap saja mereka harus membayar
“ongkos angkut”nya. “Haree genee gratis??, ke laut aja deh!”.

Berapa sih subsidi minyak tanah untuk rakyat?, Tidak sampai berapa persen dari uang Negara yang dikorupsi oleh koruptor, BLBI misalnya?.“Hal- hal yang kaya gini nih yang bikin gue sebel ama Indonesia, pemerintahnya ngga ngebalain rakyatnya,” sekilas komentar sepertri itu kerap terdengar dari pembicaraan di warung warung kopi. He he he ati ati lo, dibilang subversib ntar.

Kurang dari sebulan lalu, dimulai tahun ajaran baru. Para orang tua sibuk mencarikan sekolah yang bagus bagi anak anak mereka. Mulai dari SD sampai peguruan tinggi. Bagi anak anak yang diterima di sekolah negeri SD dan SMP yang bukan unggulan maka mereka mendapatkan fasilitas SPP gratis dari pemerintah juga bebas uang pembangunan/gedung sekolah. Tapi bagi mereka yang ingin kualitas pendidikan yang lebih baik lewat sekolah unggulan harus siap siap keluar uang yang lumayan besarnya, baik untuk SPP bulanan maupun uang gedung/pembangunanya. Jadi kesimpulannya KALAU INGIN LEBIH PINTER BERKUALITAS YA HARUS KAYA. Orang miskin tidak akan pernah dapat merasakan sekolah unggulan. Itu baru kita bicara tentang sekolah dasar dan menengah. Bagaimana dengan pendidikan tingginya? Univesitas? S2? S3? S…

LEBIH PARAH. KALAU TIDAK PUNYA DUIT JANGAN MIMPI BISA KULIAH. Di PTN saja uang gedungnya sudah berpuluh puluh juta. SPPnya berjuta juta. Sudah tes masuknya susah, bayak saingan, eh kalau sudah berhasil lolos tes masih ada lagi masalah bagi murid-murid yang miskin tapi
pintar. Hal ini akibat dari lagi lagi pengurangan kea rah peniadaan subsidi
pendidikan oleh pemerintah. ?.“Hal- hal yang kaya gini nih yang bikin gue sebel ama Indonesia, pemerintahnya ngga ngebalain rakyatnya,” lagi-lagi komentar
sepertri ini juga terdengar dari pembicaraan di warung warung kopi. He he he ati ati lo, dibilang subversib lagi ntar..

Bagi para koruptor dari yang kakap sampai kelas teri mungkin negri ini adalah surga abadi. Mereka tetap melenggang tak tersentuh hukum. Berapa banyak yang diadili tapi diputus bebas karena kurang bukti, tak terbukti memperkaya diri, tak layak diadili dll bahasa hukum yang tidak semua orang awam mengerti. Belum lagi mereka mereka yang biasa bermain cantik, rajin berbagi hasil korupsi ke kanan kiri akan terus langgeng berkorupsi. Mereka pasti cinta negeri ini.

Iklan

15 thoughts on “ANTARA BENCI DAN CINTA

  1. Majalah "Dewa Dewi" Agustus 15, 2007 pukul 10:41 am Reply

    Wah, ini kompor gw jaman baheula.

  2. bluedee Agustus 16, 2007 pukul 5:55 am Reply

    emang parah nih indonesia…makin tua makin parah.
    apalagi uang sekolah. Masuk komputer UI aja udah 25 juta-an.

    Mendingan gw pindah ke negara lain nih…:)

  3. nailah zhufairah Agustus 16, 2007 pukul 6:07 am Reply

    back to nature… kata pak SBY!

  4. Irwan Agustus 16, 2007 pukul 7:02 am Reply

    @ Majalah “Dewa Dewi”
    Jaman sekarang jg masih ada lo, buktinya saya masih bisa motonya.

    @ bluedee
    Indonesianya sih ga parah tapi, pemimpinnya itu lo
    Itulah tujuan mereka yg boleh pinter hanya orang kaya, kalo bisa yg orang tuanya koruptor sehingga budaya koruptor jd turun-temurun.

    @ nailah zhufairah
    Maksudnya pake kayu bakar gitu atau
    makan makanan mentah

  5. Dimashusna Agustus 16, 2007 pukul 7:15 am Reply

    Lho, bukannya diliterin dong, Tapi dikilo, sama kaya stasiun BBG,atau semacam kompresor pompa ban yang ada alat ukurnya. Detilnya? PERTAMINA dan Pemerintah suruh mikir..!! 🙂

  6. Irwan Agustus 16, 2007 pukul 10:37 am Reply

    @ Dimashusna
    Yoi
    Tapi tetep ga bisa beli cuman 1 kilo atau setengah kilo, sesuai ama kantong rakyat

  7. Mrs. Neo Forty-Nine Agustus 17, 2007 pukul 6:28 am Reply

    LEBIH PARAH. KALAU TIDAK PUNYA DUIT JANGAN MIMPI BISA KULIAH

    masa mimpi aja ga boleh?

    eh, maaf…coba sekali kali maen ke ITS.banyak kok, yang dapet kuliah gratis tis tis, malah dapet uang saku pula dari kampus…

    semua ada perngorbanannya lah…

  8. Irwan Agustus 19, 2007 pukul 12:02 pm Reply

    @ Mrs. Neo Forty-Nine
    Oo begitu ya tapi, di Jakarta ko lainya
    ITS di negara mana ya? (pura2 tulalit2)
    Mo sih maen ke sono tapi lg ongkosnya gimanaya, kantong lg tipis nih.

  9. may Agustus 23, 2007 pukul 10:14 am Reply

    Kenapa pinter selalu dihubungkan dengan Gelar dan tingginya tingkat Pendidikan?
    Ada banyak parameter pinter yang bisa digunakan bukan hanya IQ (EQ dan SQ). Negara ini penuh dengan orang2 pinter..membodo-bodohin yang laen, banyak orang jenius..yang memarkup kalkulasi proyek.
    Bagus begini, jadi orang2 yang ga bisa jadi “orang pinter” pada puter haluan menjadi orang kreatif, buka usaha sendiri (ga mentok tujuannnya jadi kelas pekerja).
    Hidup Indonesia (mumpung masih agustus mas)
    Tq, dah mampir ke blog aq

  10. Irwan Agustus 27, 2007 pukul 6:23 am Reply

    Benar sekali pinter tidak identik dengan gelar dan tingkat pendidikan.
    Pada dasarnya otak manusia itu sama yg membuat ia jd pinter dan tidak adalah banyaknya input pengetahuan yg berguna, dan input yg banyak itu diperoleh dari pendidikan.
    Untuk jadi wira usaha jg perlu ilmunya dan jg modal uang yg cukup.
    Ya semoga pemerintah memperioritaskan pendidikan demi Negara ini yg katanya ud MERDEKA

  11. mbelgedez Agustus 28, 2007 pukul 2:02 am Reply

    Bingung gue.
    Mau ngomongin kompor, ato nggak becus kuliah, ato korupsi seh….???

  12. Irwan Agustus 28, 2007 pukul 4:35 am Reply

    Mohon maap kalo bikin jd bingung.
    Kalo mongomong ngomong aja ga nyambung jg ga apa2, kalo di blog ini sih bebas MERDEKA.

  13. Dije Norie Agustus 28, 2007 pukul 8:27 am Reply

    awalnya saya setuju dengan ide konversi minyak ke gas. tapi lama-lama melihat situasi yang ada jadi muak juga pada pemerintah, khususnya Pertamina.Kenapa semua berjalan seperti menguji kesabaran rakyat ya.

    NB: wah soal subversi, itu dah ga ada Undang-undangnya, sudah dihapus. tapi hati-hati jangan sampai menyinggung orang atau badan hukum nanti bisa kena pasal pencemaran nama baik atau pasal tentang difitnah. jadi kalau mau bebas berbicara ini itu pakai inisial saja, biar sulit pembuktiannya dipengadilan. hehehe 🙂

  14. alex September 4, 2007 pukul 4:53 pm Reply

    Tahu dari Edy kalo justru para pedagang minyak tanah malah kelimpungan karena harus menyediakan 50 tabung gas sebagai prasyarat untuk tetap boleh jualan minyak tanah.
    Duh… ini pemerintahan dari hutan mana sih, barbar begitu mencekik leher rakyatnya? 😡

  15. Irwan September 6, 2007 pukul 8:58 am Reply

    @ Dije Norie
    Kalo saya sih dari awal ud ga setuju, bukanya efesiensi dalam tubuh pertamina sendiri tapi malah masyarakat lg yg kena.

    @ alex
    Ya ternyata lebih parah dari yg saya ketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: